Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kini, hanya ada seorang Sipud

Langit seolah murung, udara sedikit tak bersahabat, suasana hatipun ikut mengasah petang yang tak menampakkan dirinya sebagaimana mestinya. Diri ini kembali merenung, kilas balik kehidupanku menoreh luka tersendiri yang hingga kini tak bisa terobati. Air mata ini kembali melembabkan wajahku. Tak kusangka hal itu membuat hidupku tak bersinar. Lingkungan masyarakat pun seolah tak menerimaku. Buktinya saja, saat aku melewati aspal diperkampungan tak ada yang tersenyum padaku. Ntah apa yang ada difikiran mereka.

Tubuhku tak terurus. Rambutku yang panjang dan keras seperti ijuk membuat wajahku tersirat angker. Bayangkan saja, jangankan untuk menyampho nya, menyisirpun tak pernah kulakukan. Hari-hariku disibukkan dengan fikiran ku sendiri serta khayalan-khayalan yang tak jelas. Aq sendiri bingung. Terkadang aku tertawa terbahak-bahak, terkadang aku menangis sejadi-jadinya, karena masyarakat tak ada yang mau berbicara padaku, aku terpaksa berbicara sendiri. Seolah ada seorang sahabat ghaib yang mau mendengarkan curhatku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamar Kegelapan

Kebiasaan yang tak sempat dipalingkan. Suatu kebiasaan buruk menurutku. Namun kebiasaan tersebut seolah tlah tertancap didiriku. Apakah ini kutukan? Oh tidaaaak..., jangan sampai. This is very dangerous. Aku sempat alergi karena kebiasaan ini. Setiap saat selalu ada sahabat yang mengingatkan untuk memusnahkan kebiasaan ini. Namun, semua itu sulit dicerna. Sempat terfikir olehku, kenapa harus ada kebiasaan seperti ini? Benar-benar menjadi suatu problema tersendiri buatku. Kebiasaan yang membuat diriku sendiri menjadi lelah. Aku benar-benar ingin pergi jauh dari kebiasaan ini. Jauh..., sejauh mungkin.

Semua berawal dari sepasang mata, pandangan yang tajam, sorot mata yang menyayat ingatan. Semuanya susah untuk terlupakan. Wajah yang manis tak mampu tuk mengelakkan pandangan. Sosoknya tlah menghantui hari-hariku. Kemudian berlanjut dengan perkenalan. Tak disangka, hati tlah terpaut rasa. Sedikit cinta tlah terbagi untuknya. Berani-beraninya ia mencuri perasaan ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bakso Cinta

Takjub melihat sosoknya. Salut melihat kepribadiannya. Tekadku ingin mempersuntingnya merusut karena kami sangat jauh berbeda. Wajahnya yang memang sangat mempesona tak pantas bersanding dengan kekusutan wajahku.

Aku akrab disapa Hanif. Keseharianku disibukkan dengan berdagang bakso keliling. Biasanya aku menjual satu mangkok sebesar Rp.5000 dan hal itu membuat kehidupku benar-benar pas-pasan. Aku hidup bersama Ana adik bungsuku. Kedua orang tua kami tlah lama tiada. Aku harus bekerja keras untuk menghidupi kebutuhan kami berdua. Aku tak ingin kalau adikku tak menyelesaikan sekolahnya seperti diriku yang tak tamat sekolah menengah pertama.

Suatu hari gejolak hati ku bersinar dan bergetar saat melihat bidadari itu. Senyumnya yang manis dengan dilapisi kerudung dan gamis simple nya membuat dirinya terlihat anggun saat itu. Kulitnya yang lembut dan putih, hidungnya yang mancung dan lesung pipinya saat tersenyum memancarkan keramahan yang sejuk ada pada dirinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS